Showing posts with label mall. Show all posts
Showing posts with label mall. Show all posts

Monday, February 6, 2017

Enjoy Your Food with Musi River's View At Ampera Convention Center

As far as i know, Ampera Convention Center (ACC) already established in 2014. But i don't know for sure. Talk about ACC, we will see the hallmark Palembang from here. You can see Ampera Bridge and Musi River.

ACC from Ampera Bridge
Located in river side, this plaza also has many stores like Chatime, Sederhana Bintaro (Padang food), KFC, etc. You can enjoy the wind if you sit outside. But it's too bad because they used the place for smoking area. So, i prefer to sit inside of restaurant.

Before i ate, i'd already make a video about it. See it HERE....

And also, i made a video about the view, you can see it by CLICK HERE...

Adorable right? So if you go to Palembang, i recommend you to go here and watch the view by yourself. The view in the night is also amazing.



Monday, October 24, 2016

Indonesia Kaya, Kekayaan Indonesia yang Terlihat di Mall GI

Beberapa waktu yang lalu, aku sempat mengunjungi salah satu tempat yang sudah lama kutahu, tapi baru kali itu aku berani menginjakkan kaki ke situ. Tempat yang aku datangi yaitu Indonesia Kaya, salah satu tempat yang memperkenalkan kekayaan Indonesia, yang letaknya ada di dalam mall Grand Indonesia. Unik banget bukan?

Sebelum bicara tentang apa saja yang dapat kita lihat di sini, kita perlu tahu dimana letaknya. Jadi, kalau mau menuju GI, kalian hanya perlu naik transjakarta sampai Tosari, berhenti dan lalu tinggal jalan kaki 5 menit.

Setelah itu, carilah jalan menuju Blitz Megaplex, bioskop yang ada di GI, sebagai patokan letaknya paling atas. Nah, persis di depan pintu masuk GI, di sebelahnya terletak sebuah pintu lain yang bertuliskan "Indonesia Kaya". Tempatnya memang terlihat ekslusif, tapi jangan takut. Di sini bukan restoran ataupun toko yang menjual barang-barang mewah, namun tempat untuk kita lebih mengenal kekayaan Indonesia.

Satpam akan memeriksa barang bawaan kalian, setelah itu kalian bisa masuk dengan free. Tempat ini udah modern banget, jadi cobalah bereksperimen ya. Kalau aku sih pertama kali tertarik melihat layar yang sudah canggih banget. Ternyata layar ini diperuntukkan bagi kita untuk bisa mengenakan pakaian adat.

Alat ini menggunakan sensor / gerakan tangan. Arahkan tangan ke tombol yang diinginkan, atur posisi maju atau mundur untuk menyesuaikan dengan pakaian, dan akhirnya bergaya deh. Oya, melihat dari gambar di atas, kameranya itu ada di bawah kanan (dekat kaki kanan kita), jadi memandanglah ke arah kamera ya, jangan seperti saya hehehhehe


Setelah itu, di sini kita bisa mengenal berbagai alat musik tradisional di Indonesia, bahkan kita bisa membuat lagu kita sendiri dengan alat tersebut dan memainkannya. Keren banget kan? Nah, inilah yang dimainkan oleh para pengunjung di sini.

Kita juga bisa menyaksikan layar film asli Indonesia. Di sini sih, ada lawakan-lawakan ala Petruk Gareng gitu, jadi kalau kamu mau tahu gimana, kunjungi aja langsung.

Wayang, salah satu pertunjukan asli Indonesia

Sebenarnya, apa sih yang dilakukan pria ini? Kok aneh banget tangannya sampe naik-naik begitu? Nah, ini dia jawabannya.
Ternyata dia sedang belajar mengemudikan sebuah pesawat yang menggunakan sensor tangan untuk menggerakkannya. Pesawat inilah yang akan membawa kita mengelilingi Indonesia.

Kita juga bisa mengenal berbagai jenis batik di sini dan pakaian-pakaian adat yang dipajang di lemari. Meskipun tidak begitu lengkap, namun fasilitasnya cukup menawan karena bergaya teknologi masa kini. Di sini juga disediakan tempat duduk bagi kamu yang sudah kelelahan setelah beraktivitas.

Friday, October 21, 2016

Jembatan yang Lagi Nge-Hits di Jakarta Barat

Baca di facebook, ada jembatan yang lagi bikin heboh. Katanya jembatan yang satu ini menarik para wisatawan untuk datang dan melewati jembatan tersebut. Karena penasaran, akhirnya aku pun berkunjung ke jembatan tersebut. Jembatan yang menghubungkan antara Central Park dan Neo Soho ini terlihat ramai dikunjungi, meskipun hari itu masih siang dan panas menyengat.

Jika dari Central Park, jembatannya bisa masuk diakses dari sini ataupun dari samping H&M yang ada di atas lantai ini


Ini pemandangan dari atas jembatan. Dikelilingi oleh bangunan-bangunan tinggi sehingga membuat kita merasa berjalan di antara bangunan tersebut.


Banyak yang asyik berfoto di sini, baik sendirian maupun bersama orang terkasih. Jembatannya luas sehingga menampung banyak orang. Meskipun siang terik, namun ada tempat untuk berlindung sehingga tidak akan kepanasan.

Lihatlah betapa banyaknya pengunjung yang memadati jembatan ini. Mereka semua banyak yang diam di tempat dan berfoto ria. Ditambah pemandangan yang menawan, kalian pasti betah kalau ke sini.
Bagi para orangtua dan mereka yang lelah, disediakan tempat untuk beristirahat. Letaknya ada di tengah-tengah jembatan. Karena berada di area tanpa atap, tempat ini sangat tidak menyenangkan jika sedang musim hujan.


Rata-rata yang datang bersama keluarga ataupun teman ini, nampaknya sangat betah berada di jembatan dan sangat sedikit yang pada akhirnya masuk ke Neo Soho. Saya sendiri berfoto ria di jembatan ini selama 15 menit karena ada banyak sudut pandang yang bisa diambil.


Nah, kita sudah berada di seberang (New Soho). Di sini masih terlihat masih ada perbaikan yang dilakukan, yang saya perkirakan dalam bulan November 2016 sudah selesai.

Saya sendiri tidak menuju Neo Soho namun balik lagi ke Central Park. Rencananya sih mau foto jembatan ini saat malam hari, ketika lampu-lampu bersinar berwarna-warni. Namun apa daya, hape iphone 5 yang saya pakai sudah memasuki masa kritis dan saya tidak bawa powerbank, jadi di bawah ini adalah foto-foto yang saya dapatkan dengan sisa-sisa kehidupan baterai yang ada.



Wednesday, May 20, 2015

Day 3 Part 3/3 Jalan ke Curug Dago, Bukit Keraton, Riau Junction, dan Alun-Alun

Day 3
-Curug Dago
-Bukit Keraton
-Riau Junction
-Alun-alun

Baca sebelumnya : Day 3 Part 2/3 di Bandung

Masih di hari ke-3 di Kota Bandung, di atas motor aku negosiasi dengan Pak Ojeg. Katanya sih, kalau mau ke Bukit Keraton, aku bayar Rp 50 ribu aja udah termasuk semuanya. Nanti dia anterin sekaligus bisa jelasin.

Nah, abis itu dia nawarin lagi ke Benteng Belanda dan Curug Dago/Curug Thailand. Aku mikir, emang dia mau Rp 50 ribu. Tapi pas aku bilang, berapa kalau ke tempat itu juga, dia bilang ya seikhlasnya aja. Curiga juga kenapa kok tukang ojeg tapi ga 'matre' banget, biasa kan pasti kasih tarif dan mahal pula. Berkali-kali aku tanyain, dia tetap ngomong seikhlasnya aja. Jadi, aku milih liat Curug Thailand juga deh, soalnya katanya di situ ada tempat raja Thailand bersemedi. Kan jadi penasaran Itupun setelah dia maksa. Soalnya kalau ke Benteng Belanda, katanya jauh lagi. Entar aku dipalak lagi kayak sebelumnya, ehheheh

Ke Bukit Keraton
Abis dari Tahura, aku dan Pak Ojeg ke Bukit Keraton. Terus terang, Bukit Keraton ini emang lebih jauh dari perkiraanku dan jalannya ga bagus. Sekali lagi, kalau mau ke sini harus pake motor atau kalau ga mobil off road. Jangan bawa sedan, pasti tuh bawahnya keantuk batu mulu.

Sesampainya di sana, aku lapar. Jadi aku dan Pak Ojeg makan dulu. Di sana makanannya masih dikit, katanya sih karena baru buka setahun. Beda banget dengan orang yang dagang di Tangkuban Perahu yang mewabah dimana-mana itu.

Di sana ada Mi Kocok Baso, kupikir itu Mie Kocok Bandung. Penasaran dong gimana rasanya, jadi aku pesen itu. Ga tahunya, ini nih mie-nya :
Mie Kocok Bandung ala Bukit Keraton
Ternyata itu mie dan bumbunya berasal dari mie instan, cuma ditambahi bakso dan kikil gitu deh. Makannya ya jelas aja rasanya gitu doang. Tapi karena emang laper, aku santap aja.

Pak Ojeg juga aku traktir makan, tapi dia makannya gado-gado. Baru sampai ke bukitnya, hujan turun pula. Untungnya Pak Ojeg bawa dua jas hujan. Jadi mayanlah. Btw, ini aku mau perlihatkan harga makanan di Bukit Keraton, ga mahal-mahal juga kok tapi kalau makanan berat kayak nasi, jarang banget ada. Ya paling gado-gado itu pake nasi sama nasi soto.
Bukitnya mempesona, dia makan menjorok ke luar kayak tebing. Di sekeliling pemandangan alam yang hijau banget. Kontras banget dengan bukitnya yang coklat. Ini beberapa foto tebingnya yang sempat aku abadikan:



 Nah, ini pemandangan alam sekitarnya :

















Foto-foto di sini make iPhone 5 nih, makanya beda hasilnya dengan foto-foto di Tahura tadi. Cuma ya itu, aku nunggu agak lama buat nge-charge, tapi ya abis juga pas udah mau ke Curug Dago.

Pemandangan di Bukit Keraton sih di situ aja. Mungkin hanya diperlukan waktu paling lama 1/2 jam untuk melihat-lihat, foto-foto, dan mengagumi ciptaan Tuhan. Tapi pemandangan menuju ke Bukit Keraton juga ga kalah indahnya kok. Ada suatu daerah perbukitan yang bisa kita lihat dimana dijadikan cocok tanam. Cuma karena yang ditanam bermacam-macam, jadi kayak petak-petak berwarna gitu.


Selama perjalanan ke Curug Dago yang ternyata panjang banget. Jadi kalau benernya sih harus ke Bukit Keraton dulu, lalu ke Tahura. Ke Tahura aja bisa seharian. Terakhir ke Curug Dago deh. (Belum termasuk ke Benteng Belanda ya, soalnya aku ga tahu tempatnya dimana).

Nah, selama perjalanan ke Curug Dago itu, Pak Ojeg pertamanya masih cerita tentang wisata. Lama-kelamaan, Pak Ojeg beralih subjek. Tahu ga apa yang dia ceritain?

Jadi dia bilang, dia pikir aku tuh tadinya mantannya. Karena katanya tampangku mirip banget sama mantannya. Dia jadinya cerita tentang masa lalunya itu panjang lebar. Mantannya ternyata juga hobi pegi sendirian, mereka pun ketemu. Dia juga ngojeg-in mantannya. Ga tahunya berlanjut lebih dalam. Cuma karena mantannya belum siap merit, akhirnya mereka pun bubar.

Terus aku bilang dong, kalo gitu hubungi lagi aja mantannya. Kan sama-sama masih single tuh. Tapi ga tahu napa, dia kayak pasrah gitu.Dia bilang udah 2 tahun ga kontekan lagi.

Yang pasti sih, aku mencoba ramah. Tadinya aku pengen minta no hp-nya buat tarok di blog-ku ini, jadi mau aku rekomendasikan kalau ada yang mau pake jasanya dia, karena dia baik banget. Tapi ga jadi deh, ntar disangka naksir dan akhirnya jadi panjang deh ceritanya. Males banget hahahhaha

Kalau mau ke Curug Dago, letaknya dekat pertigaan Terminal Dago. Kalau kamu ga ngerti, tanya aja sama orang-orang di sana. Ada plangnya juga kok. Tapi ga bisa dilalui mobil ya, harus pake motor karena jalannya sempit.

Ke Prasasti Curug Dago/Curug Thailand
Pak Ojeg yang ramah ini banyak banget cerita tentang wisata di sana, tapi terus terang, rada ga nyimak karena dari dulu ga suka sejarah sih. Maaf ya Pak Ojeg, bukan bermaksud ga sopan. Cuma gaya dia bercerita mayan enak lho, aku saranin dia buat jadi tour guide aja. Khasnya Curug Dago adalah, air terjunnya deres banget dan mampu menetesi bebatuan sampai akhirnya tuh batu terbelah gitu. Ditambah lagi pondokan raja Thailandnya jadi kesannya gimana gitu
ini pemandangan sekitar curug dago
Abis dari taman yang di Curug Dago di atas itu, aku dan Pak Ojeg jalan kaki menuruni tangga. Tangganya jaraknya gede-gede dan curam. Ini penampakannya, tapi ini hanya sebagian kecil tangganya. Soalnya tangganya panjang bingits :
Pengen tahu gimana jenis curugnya? Check this out :



Nah,ini penampakan pondokan Thailandnya:

Kalau keduanya digabungin, antara air terjun dan pondokan, jadinya gini nih :

Ini keterangan yang ada di pondokan, pake Tablet Lenovo jepretnya, ga tahu keliatan ga ya tulisannya :



Di persimpangan dekat Terminal Dago, aku bayar Pak Ojegnya Rp 55.000, karena aku pikir kan aku udah traktir makan waktu di Bukit Keraton. Nah, tapi rada nyesel juga sih setelah naek angkot, harusnya kan bisa Rp 60-70 ribu. Aku mah gitu orangnya. Kalau orangnya baek, aku anggap aku ngasih kurang mulu. Tapi kalau orangnya jutek dan money oriented, aku males banget ngeluarin uang buat dia. Jadi rada nyesel juga sih ngasih kurang.

Ke Riau Junction
Riau Junction tampak luar, ga gitu keliatan ya, sori foto dari angkot
Kalau datangnya aku pake angkotan Dago-Ciburial, pulangnya aku pake angkot Kalapa - Dago. Hari udah menjelang pkl 5 sore WIB sih. Bingung juga mau kemana, akhirnya aku ke Riau Junction. Ternyata aku udah pernah ke sini dulu. Aku ingat, ada roti bakar yang enak di sini tapi dimana tepatnya aku lupa. Yang pasti dari lantai paling bawah, naik aja satu kali. Dia ada di kios kecil gitu.

Di sini, aku makan siomay 4 biji tapi mayan gede. Ya maklumlah, harganya aja udah Rp 5ribu/biji. Siomay-nya ternyata enak juga. Waktu pertama kali datang, aku makan masakan Padang. Ini penampakan siomay yang kumakan, dijamin ngiler :


#Tips utk ke Riau Junction#
-Food courtnya mayan cozy, enak buat santai
-Makanannya lumayan mahal nih. Siomay aja Rp 5 ribu satu biji (tahun 2014)
-Pakaiannya murah-murah juga lho dan update, tapi mungkin bukan pusat pakaian juga sih jadi ya jangan berharap banyak pasti dapet.

Ke Alun-Alun
Selesai makan jam 7-an. Aku males pulang karena belum ngantuk juga. Akhirnya aku tanya orang naik apa kalau ke alun-alun. Sayang alun-alunnya tutup tapi masih bisa foto-foto sih.
Masjid yang letaknya persis di sebelah alun-alun. Sayang tiang yang satunya ga ada lampu, kalau enggak pasti elok



Banyak banget yang datang, enak kali ya, ini letaknya juga dekat alun-alun




















Baca selanjutnya : Day 4 di Bandung